Tiga Hari Menyusuri Jejak Keilmuan Islam di Palangkaraya
Oleh: Muhamad Fatoni
Perjalanan dinas ke Palangkaraya kali ini bukan sekadar agenda
menghadiri rapat. Di balik rangkaian acara Musyawarah Nasional (Munas) Mudir
Ma’had Al-Jami’ah dan Musabaqah Ilmiah Antar Mahasantri PTKIN se-Indonesia,
tersimpan banyak gagasan penting tentang masa depan pesantren kampus,
pendidikan karakter, dan pengembangan keilmuan Islam.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 18–20 Agustus 2026 di Hotel Luwansa dan UIN Palangkaraya. Delegasi berangkat dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung untuk mengikuti forum nasional yang mempertemukan para pengelola Ma’had Al-Jami’ah dari berbagai PTKIN di Indonesia.
Perjalanan Panjang Menuju Palangkaraya
Perjalanan dimulai pada Selasa dini hari, 18 Agustus 2026. Sekitar
pukul 02.00 WIB, rombongan berangkat dari kampus menuju Bandara Juanda,
Surabaya. Perjalanan darat memakan waktu kurang lebih tiga jam.
Bagan 1
Tiba Di Bandara Palangkaraya
Sesampainya di bandara sekitar pukul 05.00 WIB, rombongan
menunaikan salat Subuh dan sarapan sebelum mengikuti berbagai prosedur
penerbangan. Pesawat kemudian berangkat pada pukul 07.10 WIB dan tiba di
Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, sekitar pukul 09.00 WIB.
Setibanya di Palangkaraya, rombongan disambut oleh panitia. Dari
bandara, peserta langsung diarahkan menuju lokasi kegiatan untuk melakukan
registrasi, check-in, dan beristirahat sebelum mengikuti agenda pembukaan pada
malam hari.
Pembukaan Munas dan Gagasan Besar tentang Ma’had
Setelah beristirahat, menunaikan salat, dan makan malam, para
peserta menuju aula di lantai dua Hotel Luwansa Palangkaraya. Sekitar pukul
19.30 WIB, acara pembukaan Munas resmi dimulai.
Bagan 2
Delegasi UIN SATU saat pembukaan
Pembukaan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an,
sambutan-sambutan, pengarahan, serta pembinaan dari pejabat dan tokoh yang
terkait dengan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Ketua Asosiasi Mudir Ma’had Al-Jami’ah Nasional (AMMAN), Dr. KH.
Abdul Hadi, M.Ag., menyampaikan laporan pelaksanaan munas sekaligus harapan
agar Ma’had Al-Jami’ah tidak dipandang hanya sebagai pelengkap di lingkungan
perguruan tinggi. Menurutnya, ma’had harus ditempatkan sebagai bagian penting
dan sejajar dengan unit-unit lain di kampus.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam kegiatan ini.
Ma’had bukan sekadar tempat tinggal mahasiswa, melainkan ruang pembinaan
keagamaan, pembentukan karakter, dan pengembangan tradisi intelektual Islam.
Wakil Rektor I UIN Palangkaraya kemudian menyampaikan sambutan
selamat datang. Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan AMMAN yang telah
memilih UIN Palangkaraya sebagai tuan rumah. Ia juga menyampaikan permohonan
maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelayanan, seraya menegaskan bahwa
pihak kampus dan panitia telah berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi
seluruh peserta.
Acara dilanjutkan dengan pengarahan dari Direktur Pesantren
Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Dr. Basnang Said, M.Ag. Ia
mengangkat tema “Redefinisi Ma’had Al-Jami’ah PTKIN: Dari Tradisi Pesantren
menuju Ekosistem Keilmuan Islam Transformatif.”
Bagan 3
Dokumentasi Bersama Dr. Basnang Said., S.Ag., M.Ag.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa Ma’had Al-Jami’ah perlu
menggabungkan kekuatan tradisi pesantren dengan kebutuhan pendidikan modern.
Mahasiswa tidak hanya perlu mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga
pembiasaan akhlak, kajian turats, penguatan spiritualitas, serta wawasan
keilmuan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, ma’had diharapkan dapat menjadi benteng moral
sekaligus pusat pengembangan keilmuan Islam yang dinamis.
Berdiskusi dalam Tiga Komisi
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, rangkaian Munas dilanjutkan dengan
sidang komisi. Peserta dibagi ke dalam tiga komisi sesuai dengan tugas dan
tanggung jawab masing-masing.
Komisi A diikuti oleh para mudir atau pimpinan Ma’had Al-Jami’ah.
Pembahasannya berfokus pada penguatan kelembagaan dan otoritas strategis AMMAN.
Forum ini membicarakan bagaimana posisi ma’had dapat semakin kuat dalam
struktur perguruan tinggi keagamaan Islam.
Bagan 4
Dokumentasi Komisi B
Komisi B diikuti oleh para sekretaris ma’had atau pejabat yang
memiliki tugas sejenis. Pembahasan utama komisi ini adalah transformasi
kurikulum dan pengembangan ekosistem keilmuan ma’had. Salah satu tantangannya
adalah belum seragamnya struktur dan nomenklatur Ma’had Al-Jami’ah di setiap
perguruan tinggi.
Sementara itu, Komisi C membahas kolaborasi strategis dan penguatan
riset Ma’had Al-Jami’ah. Komisi ini mendorong terjalinnya kerja sama
antar-pengelola ma’had, khususnya dalam menghasilkan penelitian yang berkaitan
dengan kehidupan, pendidikan, dan pengembangan pesantren kampus.
Setelah sidang komisi selesai, seluruh peserta berkumpul dalam
sidang pleno. Pembahasan berlangsung cukup panjang dan serius. Berbagai usulan
dari masing-masing komisi dibahas bersama hingga menghasilkan sejumlah
rekomendasi.
Rekomendasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran, kedudukan,
dan fungsi Ma’had Al-Jami’ah sebagai bagian integral dari perguruan tinggi
keagamaan Islam.
Dari Asrama Menjadi Pusat Pembentukan Karakter
Pada malam harinya, kegiatan Munas ditutup. Acara penutupan
dihadiri oleh Rektor UIN Palangkaraya, Prof. Dr. H. Ahmad Dakhoir, S.H.I.,
M.H.I., serta Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof.
Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. Amien Suyitno menyampaikan
materi bertema “Menegaskan Posisi Ma’had Al-Jami’ah dalam Struktur PTKIN: Dari
Asrama ke Pusat Transformasi Keilmuan dan Karakter.”
Bagan 5
Dokumentasi Bersama Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag.
Tema ini menggambarkan arah baru pengembangan ma’had. Ma’had tidak
seharusnya berhenti sebagai tempat tinggal mahasiswa. Lebih dari itu, ma’had
perlu menjadi lingkungan pendidikan yang menumbuhkan tradisi belajar,
kedisiplinan, akhlak, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
Jika dikelola dengan baik, ma’had dapat menjadi ruang penting untuk
membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang
secara spiritual dan sosial.
Istighosah dan Doa untuk Kalimantan
Setelah penutupan Munas, rombongan melanjutkan agenda pada Kamis,
20 Agustus 2026 dengan mengunjungi UIN Palangkaraya.
Kunjungan tersebut diisi dengan istighosah dan doa bersama sebagai
bentuk keprihatinan atas musibah kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah
Kalimantan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi tidak hanya
berperan dalam urusan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan
kemanusiaan.
Melalui doa bersama, para peserta berharap agar masyarakat yang
terdampak diberikan keselamatan dan agar bencana tersebut segera berakhir.
Menutup Perjalanan dengan Mengenal Palangkaraya
Sebelum kembali ke Tulungagung, rombongan menyempatkan diri
mengunjungi beberapa tempat di Palangkaraya, salah satunya Wisata Air Hitam.
Kunjungan singkat ini menjadi momen untuk mengenal lebih dekat suasana alam dan
kehidupan masyarakat setempat.
Bagan 6
Depan Rumah Dinas Palangkaraya
Bagan 7
Bundaran Besar Palangkaraya
Bagan 8 Wisata Kuliner Kampung Lauk Tepi Sungai Kalayan
Bagan 9
Wisata Sungai Hitam
Sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan kembali menuju bandara untuk
melanjutkan perjalanan pulang.
Perjalanan selama tiga hari tersebut meninggalkan kesan yang cukup
mendalam. Selain memperluas jaringan kerja sama antar-pengelola Ma’had
Al-Jami’ah, kegiatan ini juga membuka wawasan tentang pentingnya memperkuat
posisi ma’had di lingkungan perguruan tinggi.
Pada akhirnya, ma’had bukan hanya tentang tempat tinggal mahasiswa.
Ma’had adalah ruang untuk belajar hidup, membangun karakter, merawat tradisi keilmuan
Islam, dan mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa
kehilangan nilai-nilai luhur pesantren.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar