Minggu, 07 Juni 2026

Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’

 

Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’

Bersama Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. dan Istri


Prolog

Haji merupakan salah satu diantara rukun islam yang lima, syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Menjalankan haji merupakan kewajiban bagi umat muslim, sekali seumur hidupnya. Namun, kewajiban tersebut tidak berlaku mutlak bagi semua muslim, melainkan dikhususkan bagi yang “istitha’ah”, yakni muslim yang dianugerahi “kemampuan”.


Kemampun tersebut menjadi penciri ibadah haji dari ibadah selainnya. Jika kewajiban sholat mengikat bagi setiap muslim yang masih bernafas, tidak halnya dengan ibadah haji. Haji hanya bagi muslim yang memiliki kemampuan secara finansial, aman diperjalanan, sehat jasmani dan ruhani, serta “mampu” waktu dan kesempatannya.


Di Indonesia, terdapat satu tradisi menarik yang -penulis, belum tahu secara persis apakah di selainnya terdapat tradisi tersebut, yakni ziarah haji. Tradisi berkunjung ke sanak famili, karib kerabat, handai tolan yang sampai dari tanah suci untuk menunaikan haji. Tradisi ini di satu sisi memiliki nilai positif,  meski di sisi lain juga memunculkan problem tersendiri bagi sebagian orang.


Penulis melihat bahwa terdapat satu titik “kemiripan” antara tradisi ziarah haji dan maqbarah aulia’, yakni pada sisi “tabarrukan”, meminta keberkahan. Satu hal yang diyakini bahwa ada nilai “barokah” yang dipercaya bisa menumbuhkan semangat untuk kembali mengingat “tugas pokok manusia” yakni untuk “mengabdi”, “menghamba”, dan “menyembah”-Nya.


Ziarah Empat Hujjaj dalam Satu Rumah (Puta-putri Prof. Dr. Hj. Elvi Muawanah, S.Ag., M.Pd.)


Sabtu, 6 Juni 2026, saya berkesempatan untuk “tabarrukan” ke salah satu Guru Besar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. Hj. Elvi Mu’awanah, S.Ag., M.Pd.). Beliau merupakah salah satu guru besar di tempat saya mengabdi. Rumahnya adalah di Desa Bajang Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo.


Saya bersama istri berangkat dari Blitar. Kami berangkat pada kisaran pukul 06.45 WIB dan dengan berbekal “google map” tiba di Lokasi pada kisaran pukul 09.00 WIB. Kami langsung disambut oleh beliau dengan baik, dan disilahkan untuk masuk ke kediaman.


Bersama Prof. Hj. Elvi Mu'awanah, S.Ag., M.Pd. dan Keluarga


Belum banyak tamu yang datang, hal ini memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa “ngobrol” dengan lebih leluasa. Alhamdulillah, kami bisa bertemu dengan “putra”  beliau yang masih menempuh studinya di jenjang perguruan tinggi. Berbagai cerita dan pengalamannya selama menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah.


Prof. Elvi juga banyak memberikan masukan dan nasihat, terutama yang berkaitan dengan kondisi “Kesehatan”. Kesehatan merupakan hal “urgen” yang perlu dijaga agar setiap aktivitas yang dijalani bisa berjalan dengan baik, sukses, dan tentunya ‘berkah’.


Beliau juga menceritakan, bagiamana “keyakinan religious” yang tetap dipegangnya secara kuat, meski hidup di Tengah budaya akademik yang kerap kali mengikis sisi “religius” dengan sikap kritis yang cenderung “skeptis”. Ia juga mengisahkan kiat-kiat yang ditempuhnya dalam menjalani kehidupan. Tetap rileks dalam setiap keadaan dan tetap meyakini bahwa dimensi spiritual memiliki pengaruh dan dampak besar dalam kehidupan.


Setelah merasa cukup dan mendapatkan keberkahan “do’a” dari putranya kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Kami berniat untuk ziarah ke Makam Agung Kyai Ageng Muhammad Besari.


Ziarah Makam Agung Kyai Ageng Muhammad Besari   


Mengetahui bahwa kami berniat ziarah ke Makam Agung Kyai Ageng Muhammad Besari, Prof. Elvi dengan sigap mengantar kami ke Lokasi. Kebetulan Lokasi makam tidak seberapa jauh dari kediaman beliau. Beliau mengantar kami sampai di makam dengan melewati jalur alternatif sehingga kami bisa lebih cepat sampai di Lokasi.



Makam ini adalah makam pendiri masjid dan tokoh penyebar Agama Islam di Ponorogo tertua di Indonesia yang didirikan sekitar abad ke-18. Makam ini terletak di desa Tegalsari, kecamatan Jetis, kabupaten Ponorogo bersebelahan dengan Masjid Tegalsari. Kyai Ageng Hasan Besari, seorang ulama besar yang hidup sekitar tahun 1742 pada zaman pemerintahan Pakubuwono II. Di dalam masjid tersimpan kitab yang berumur antara 150–170 tahun yang ditulis oleh Ranggawarsita. Komplek makam ini sekarang menjadi tujuan wisata religius di Ponorogo.


Setiba di lokasi kami langsung bergegas ke makam untuk ziarah dan mujahadah dengan aurad 717. Selesai dari ziarah kami melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke makam “Bathoro Katong”.


Ziarah ke Makam Bathoro Katong


Selesai ziarah ke makam Tegalsari, kami menuju ke Makam Bathoro Katong. Kami berpikir, mumpung ada kesempatan di Ponorogo, “eman” rasanya jika kesempatan ini kami lewatkan.



Batoro Katong yang bernama asli Lembu Kanigoro merupakan pendiri sekaligus adipati pertama Ponorogo. Bathoro Katong berasal dari keturunan Raja Brawijaya V dengan selirnya Putri Campa yang beragama Islam. Kehadiran Batoro Katong ke wilayah Ponorogo awalnya diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan agama islam.


Kompleks makam Bathoro Katong berada di sebelah masjid. Kami tiba di lokasi pada kisaran pukul 11. 15 WIB. Kami langsung masuk ke makam untuk berziarah dan mujahadah dengan aurad 717. Setelah cukup, kebetulan Adzan Dhuhur telah dikumandangkan. Kami turut serta sholat jama’ah sembari “istirahat” sejenak. Setelah merasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Trenggalek, yakni di daerah Parakan, Kabupaten Trenggalek, di Kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I.


Ziarah ke Kediaman Prof. Dr. H. Ngainun Na’im, M.H.I.


Selesai dengan agenda di Ponorogo, kami bergegas menuju Trenggalek. Alhamdulillah, pagi hari sebelum berangkat saya sempat meng “intip” status Prof, Ngainun Naim. Update Status beliau, “Jimatku, Ibuku”. Satu foto bersama ibundanya. Status yang sarat makna, yang sering terlupakan oleh kebanyakan orang, yakni “Ibu”. Sosok yang menjadi penentu bagi nasib anak-anaknya di dunia.



Alhamdulillah, kami tiba di kediaman beliau pada kisaran pukul 14.00 WIB. Kami disambut dengan hangat oleh beliau. Sosok yang banyak meng “inspirasi” bagi kami anak-anak muda yang pernah “ikut” di kelas perkuliahannya.


Beliau adalah “Begawan Literasi” meminjam istilah “Cak Akhol”. Sosok yang tetap “istiqomah” dalam menyuarakan pentingnya menulis untuk mengabadikan gagasan, pemikiran, pengalaman, dan lainnya. Meski sangat “sederhana”, namun jika ditulis, pasti akan ada saja “manfaat” bagi siapapun yang membacanya. Salah satu yang beliau pegang, “bahwa setiap tulisan memiliki momentumnya”. Boleh jadi tulisan kita hari ini tidak ada yang melirik, tapi siapa tahu suatu saat, bahkan mungkin setelah “kita tidak ada”, ada banyak orang yang membutuhkannya.


Tahun ini, beliau bersama istri, ditakdirkan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Beliau berangkat dengan tiket “Haji Plus”. Namun, bagi beliau haji bukan soal “siapa pegang uang atau punya uang”, haji,-dalam keyakinan beliau, adalah murni “Panggilan Allah”.


Beliau banyak memberikan wejangan dan arahan kepada kami tentang makna dari haji. Beliau juga banyak bercerita tentang berbagai pengalaman yang dialami oleh para jamaah selama menunaikan haji.


“Saat haji, kita benar-benar harus menata niat”, tutur beliau. Banyak peristiwa yang dialami oleh para jama’ah. “Setiap omongan tumus”, tegasnya. Setiap omangan bisa jadi “kenyataan” dalam waktu spontan. Beliau menceritakan, ada satu jamaah dari Semarang yang di dalam hatinya bergumam, “Enak yo kui Haji Plus, nggone apik”. Ternyata Allah mengijabah “krentek ati” orang tersebut. Ia terpisah dengan jama’ahnya dan sampai di tenda Prof. Naim. Beliau berkelakar, “Lha pripun bu, sakniki pun teng mriki, sekeco pundi bu?”, kata beliau. Orang tersebut menjawab, “Ternyata podo wae, podo panase, mek arane tok plus.”


Beliau juga menceritakan apa yang dialami oleh seorang temannya yang sehat dan obatnya masih utuh. Ia mengatakan, “Iki lo obatku ora kangge!”. Dalam waktu yang tidak lama akhirnya sakit dan sampai pulang masih belum sembuh.


Bagi sebagian orang, mungkin cerita seperti ini hanya cerita biasa. Namun, bagi sebagian lain, cerita ini merupakan satu pelajaran berharga bahwa saat berada di tanah suci, “kebersihan hati dan pikiran, yang terwujud dalam perbuatan”, merupakan hal mutlak yang tidak boleh ditawar. Hati menjadi barometer bagi kualitas ibadah seseorang, meminjam kalam hikmah dari Syaikh Ibn Athaillah Al-Sakandari, “Amal-amal (lahir) adalah gambar-gambar yang berdiri, sedangkan ruh (yang membuatnya hidup) adalah adanya rahasia ikhlas di dalamnya”.


Prof. Na’im merupakan sosok yang “teguh” dalam memegang prinsipnya, termasuk dalam hal ibadah. Saat penulis bertanya apakah beliau banyak memanfaatkan kesempatan di Raudhah, beliau hanya dua kali. Karena untuk masuk ke sana hanya ada dua kali yang secara resmi diizinkan. Untuk masuk ke sana, diperlukan “tasyrih” untuk izin tersebut.


“Sebenarnya bisa saja ke Raudhah dengan “mencuri-curi” waktu (tanpa tasyrih), tapi bagi saya, hal itu berarti saya “tidak jujur” dalam beribadah. Masak kita beribadah dengan cara yang tidak jujur. Bagaimana ibadah kita?”, tegas beliau. Tentu, hal ini menunjukkan betapa beliau tetap teguh dalam memegang “prinsip” yang diyakininya.


Banyak wejangan dan pelajaran yang kami dapatkan dari beliau. Tentu, hal ini menjadi bekal bagi pribadi penulis khususnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.


Akhir tulisan sederhana ini, ziarah haji dan makbarah aulia’ menjadi momentum berharga untuk bisa mengambil pelajaran berharga, bahwa hidup tak selamanya abadi. Di dunia kita mengemban misi untuk menjalani “titah” sebagai hamba-Nya. Pada saatnya nanti kita akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Karena berlaku “jujur” dalam setiap tindakan, termasuk dalam hal “ibadah” mutlak diperlukan. Haji mengajarkan kepada kita, bahwa, “Semua adalah Milik-Nya, dan Semua akan kembali Kepada-Nya.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’

  Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’ Bersama Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. dan Istri Prolog Haji merupakan salah satu diantara rukun ...