Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’
![]() |
| Bersama Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. dan Istri |
Prolog
Haji merupakan salah satu diantara
rukun islam yang lima, syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Menjalankan haji
merupakan kewajiban bagi umat muslim, sekali seumur hidupnya. Namun, kewajiban tersebut
tidak berlaku mutlak bagi semua muslim, melainkan dikhususkan bagi yang “istitha’ah”,
yakni muslim yang dianugerahi “kemampuan”.
Kemampun tersebut menjadi penciri ibadah haji dari ibadah selainnya. Jika kewajiban sholat mengikat bagi setiap muslim yang masih bernafas, tidak halnya dengan ibadah haji. Haji hanya bagi muslim yang memiliki kemampuan secara finansial, aman diperjalanan, sehat jasmani dan ruhani, serta “mampu” waktu dan kesempatannya.
Di Indonesia, terdapat satu tradisi
menarik yang -penulis, belum tahu secara persis apakah di selainnya terdapat
tradisi tersebut, yakni ziarah haji. Tradisi berkunjung ke sanak famili, karib
kerabat, handai tolan yang sampai dari tanah suci untuk menunaikan haji. Tradisi
ini di satu sisi memiliki nilai positif,
meski di sisi lain juga memunculkan problem tersendiri bagi sebagian
orang.
Penulis melihat bahwa terdapat satu
titik “kemiripan” antara tradisi ziarah haji dan maqbarah aulia’, yakni pada
sisi “tabarrukan”, meminta keberkahan. Satu hal yang diyakini bahwa ada nilai “barokah”
yang dipercaya bisa menumbuhkan semangat untuk kembali mengingat “tugas pokok
manusia” yakni untuk “mengabdi”, “menghamba”, dan “menyembah”-Nya.
Ziarah Empat Hujjaj dalam Satu Rumah (Puta-putri Prof.
Dr. Hj. Elvi Muawanah, S.Ag., M.Pd.)
Sabtu, 6 Juni 2026, saya berkesempatan
untuk “tabarrukan” ke salah satu Guru Besar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah
Tulungagung, Prof. Dr. Hj. Elvi Mu’awanah, S.Ag., M.Pd.). Beliau merupakah
salah satu guru besar di tempat saya mengabdi. Rumahnya adalah di Desa Bajang
Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo.
Saya bersama istri berangkat dari Blitar.
Kami berangkat pada kisaran pukul 06.45 WIB dan dengan berbekal “google map” tiba
di Lokasi pada kisaran pukul 09.00 WIB. Kami langsung disambut oleh beliau dengan
baik, dan disilahkan untuk masuk ke kediaman.
![]() |
| Bersama Prof. Hj. Elvi Mu'awanah, S.Ag., M.Pd. dan Keluarga |
Belum banyak tamu yang datang, hal ini
memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa “ngobrol” dengan lebih leluasa. Alhamdulillah,
kami bisa bertemu dengan “putra” beliau
yang masih menempuh studinya di jenjang perguruan tinggi. Berbagai cerita dan
pengalamannya selama menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah.
Prof. Elvi juga banyak memberikan
masukan dan nasihat, terutama yang berkaitan dengan kondisi “Kesehatan”. Kesehatan
merupakan hal “urgen” yang perlu dijaga agar setiap aktivitas yang dijalani
bisa berjalan dengan baik, sukses, dan tentunya ‘berkah’.
Beliau juga menceritakan, bagiamana “keyakinan
religious” yang tetap dipegangnya secara kuat, meski hidup di Tengah budaya
akademik yang kerap kali mengikis sisi “religius” dengan sikap kritis yang
cenderung “skeptis”. Ia juga mengisahkan kiat-kiat yang ditempuhnya dalam
menjalani kehidupan. Tetap rileks dalam setiap keadaan dan tetap meyakini bahwa
dimensi spiritual memiliki pengaruh dan dampak besar dalam kehidupan.
Setelah merasa cukup dan mendapatkan
keberkahan “do’a” dari putranya kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Kami
berniat untuk ziarah ke Makam Agung Kyai Ageng Muhammad Besari.
Ziarah Makam Agung Kyai Ageng Muhammad Besari
Mengetahui bahwa kami berniat ziarah ke
Makam Agung Kyai Ageng Muhammad Besari, Prof. Elvi dengan sigap mengantar kami
ke Lokasi. Kebetulan Lokasi makam tidak seberapa jauh dari kediaman beliau. Beliau
mengantar kami sampai di makam dengan melewati jalur alternatif sehingga kami
bisa lebih cepat sampai di Lokasi.
Makam
ini adalah makam pendiri masjid dan tokoh penyebar Agama Islam di Ponorogo
tertua di Indonesia yang didirikan sekitar abad ke-18. Makam ini terletak di
desa Tegalsari, kecamatan Jetis, kabupaten Ponorogo bersebelahan dengan Masjid Tegalsari.
Kyai Ageng Hasan Besari, seorang ulama besar yang hidup sekitar tahun 1742 pada
zaman pemerintahan Pakubuwono II. Di dalam masjid tersimpan kitab yang berumur
antara 150–170 tahun yang ditulis oleh Ranggawarsita. Komplek makam ini
sekarang menjadi tujuan wisata religius di Ponorogo.
Setiba
di lokasi kami langsung bergegas ke makam untuk ziarah dan mujahadah dengan aurad
717. Selesai dari ziarah kami melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke makam “Bathoro
Katong”.
Ziarah ke
Makam Bathoro Katong
Selesai
ziarah ke makam Tegalsari, kami menuju ke Makam Bathoro Katong. Kami berpikir,
mumpung ada kesempatan di Ponorogo, “eman” rasanya jika kesempatan ini kami
lewatkan.
Batoro
Katong yang bernama asli Lembu Kanigoro merupakan pendiri sekaligus adipati
pertama Ponorogo. Bathoro Katong berasal dari keturunan Raja Brawijaya V dengan
selirnya Putri Campa yang beragama Islam. Kehadiran Batoro Katong ke wilayah
Ponorogo awalnya diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan agama islam.
Kompleks
makam Bathoro Katong berada di sebelah masjid. Kami tiba di lokasi pada kisaran
pukul 11. 15 WIB. Kami langsung masuk ke makam untuk berziarah dan mujahadah
dengan aurad 717. Setelah cukup, kebetulan Adzan Dhuhur telah dikumandangkan. Kami
turut serta sholat jama’ah sembari “istirahat” sejenak. Setelah merasa cukup
beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Trenggalek, yakni di
daerah Parakan, Kabupaten Trenggalek, di Kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim,
M.H.I.
Ziarah ke
Kediaman Prof. Dr. H. Ngainun Na’im, M.H.I.
Selesai
dengan agenda di Ponorogo, kami bergegas menuju Trenggalek. Alhamdulillah, pagi
hari sebelum berangkat saya sempat meng “intip” status Prof, Ngainun Naim.
Update Status beliau, “Jimatku, Ibuku”. Satu foto bersama ibundanya. Status yang
sarat makna, yang sering terlupakan oleh kebanyakan orang, yakni “Ibu”. Sosok
yang menjadi penentu bagi nasib anak-anaknya di dunia.
Alhamdulillah,
kami tiba di kediaman beliau pada kisaran pukul 14.00 WIB. Kami disambut dengan
hangat oleh beliau. Sosok yang banyak meng “inspirasi” bagi kami anak-anak muda
yang pernah “ikut” di kelas perkuliahannya.
Beliau
adalah “Begawan Literasi” meminjam istilah “Cak Akhol”. Sosok yang tetap “istiqomah”
dalam menyuarakan pentingnya menulis untuk mengabadikan gagasan, pemikiran,
pengalaman, dan lainnya. Meski sangat “sederhana”, namun jika ditulis, pasti
akan ada saja “manfaat” bagi siapapun yang membacanya. Salah satu yang beliau
pegang, “bahwa setiap tulisan memiliki momentumnya”. Boleh jadi tulisan kita
hari ini tidak ada yang melirik, tapi siapa tahu suatu saat, bahkan mungkin
setelah “kita tidak ada”, ada banyak orang yang membutuhkannya.
Tahun
ini, beliau bersama istri, ditakdirkan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Beliau
berangkat dengan tiket “Haji Plus”. Namun, bagi beliau haji bukan soal “siapa
pegang uang atau punya uang”, haji,-dalam keyakinan beliau, adalah murni “Panggilan
Allah”.
Beliau
banyak memberikan wejangan dan arahan kepada kami tentang makna dari haji. Beliau
juga banyak bercerita tentang berbagai pengalaman yang dialami oleh para jamaah
selama menunaikan haji.
“Saat
haji, kita benar-benar harus menata niat”, tutur beliau. Banyak peristiwa yang
dialami oleh para jama’ah. “Setiap omongan tumus”, tegasnya. Setiap omangan
bisa jadi “kenyataan” dalam waktu spontan. Beliau menceritakan, ada satu jamaah
dari Semarang yang di dalam hatinya bergumam, “Enak yo kui Haji Plus, nggone
apik”. Ternyata Allah mengijabah “krentek ati” orang tersebut. Ia terpisah
dengan jama’ahnya dan sampai di tenda Prof. Naim. Beliau berkelakar, “Lha
pripun bu, sakniki pun teng mriki, sekeco pundi bu?”, kata beliau. Orang tersebut
menjawab, “Ternyata podo wae, podo panase, mek arane tok plus.”
Beliau
juga menceritakan apa yang dialami oleh seorang temannya yang sehat dan obatnya
masih utuh. Ia mengatakan, “Iki lo obatku ora kangge!”. Dalam waktu yang tidak
lama akhirnya sakit dan sampai pulang masih belum sembuh.
Bagi
sebagian orang, mungkin cerita seperti ini hanya cerita biasa. Namun, bagi
sebagian lain, cerita ini merupakan satu pelajaran berharga bahwa saat berada
di tanah suci, “kebersihan hati dan pikiran, yang terwujud dalam perbuatan”,
merupakan hal mutlak yang tidak boleh ditawar. Hati menjadi barometer bagi
kualitas ibadah seseorang, meminjam kalam hikmah dari Syaikh Ibn Athaillah
Al-Sakandari, “Amal-amal (lahir) adalah gambar-gambar yang berdiri,
sedangkan ruh (yang membuatnya hidup) adalah adanya rahasia ikhlas di dalamnya”.
Prof.
Na’im merupakan sosok yang “teguh” dalam memegang prinsipnya, termasuk dalam
hal ibadah. Saat penulis bertanya apakah beliau banyak memanfaatkan kesempatan
di Raudhah, beliau hanya dua kali. Karena untuk masuk ke sana hanya ada dua kali
yang secara resmi diizinkan. Untuk masuk ke sana, diperlukan “tasyrih” untuk
izin tersebut.
“Sebenarnya
bisa saja ke Raudhah dengan “mencuri-curi” waktu (tanpa tasyrih), tapi bagi
saya, hal itu berarti saya “tidak jujur” dalam beribadah. Masak kita beribadah
dengan cara yang tidak jujur. Bagaimana ibadah kita?”, tegas beliau. Tentu, hal
ini menunjukkan betapa beliau tetap teguh dalam memegang “prinsip” yang diyakininya.
Banyak
wejangan dan pelajaran yang kami dapatkan dari beliau. Tentu, hal ini menjadi
bekal bagi pribadi penulis khususnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Akhir
tulisan sederhana ini, ziarah haji dan makbarah aulia’ menjadi momentum berharga
untuk bisa mengambil pelajaran berharga, bahwa hidup tak selamanya abadi. Di dunia
kita mengemban misi untuk menjalani “titah” sebagai hamba-Nya. Pada saatnya
nanti kita akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Karena
berlaku “jujur” dalam setiap tindakan, termasuk dalam hal “ibadah” mutlak diperlukan.
Haji mengajarkan kepada kita, bahwa, “Semua adalah Milik-Nya, dan Semua akan
kembali Kepada-Nya.”





Tidak ada komentar:
Posting Komentar