Catatan Munas Mudir di UIN Mataram
Catatan ini penulis buat, sebagai salah satu upaya
untuk mengabadikan moment berharga yang diikuti, yakni Munas Mudir PTKIN
se-Indonesia Tahun 2025 di UIN Mataram Nusa Tenggara Barat. Tepatnya yakni di
Pulau Lombok. Penulis tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika pada akhirnya
bisa menjejakkan kaki di tempat ini. Penulis berangkat bersama tiga rekan
pengelola ma’had, yakni Mudir Ma’had Dr. KH. Zuhri, M.Si, Ashima Faidati, M.H.I,
dan Ruly Priantilianingtiasari, S.E., M.Pd., M.Sy.
Keberangkatan
Sesuai dengan rencana, kami berangkat dari kampus pada
menjelang Shubuh. Hal ini dikarenakan jadwal keberangkatan pesawat adalah pukul
10.00 WIB.
Oleh karena rute perjalanan yang tidak memungkinkan
untuk lewat wilayah dimana saya tinggal, maka penulis memutuskan untuk menginap
di Ma’had. Tepat pada kisaran pukul 03.00 WIB, Pak Agung, Driver kampus sudah sampai
di Ma’had untuk selanjutnya berangkat ke Bandara Internasional Juanda Surabaya.
Perjalanan berjalan dengan lancar. Kami tiba di Bandara
pada kisaran pukul 08.30 WIB. Kami sarapan Bersama di kantin luar Bandara.
Setelah itu, masuk ke Bandara.
Tiba di Mataram
Setiba di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kami langsung dijemput oleh driver yang sebelumnya telah dipesan melalui teman pak Mudir. Kami tiba pada kisaran pukul 10.00 WITA.
Karena jadwal pembukaan acara masih setelah maghrib, maka kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengunjungi beberapa wilayah di Lombok, NTB. Kami berjalan menyusuri jalan-jalan kota Mataram di berbagai tempat. Kami menikmati pesona alam yang indah di sepanjang jalan yang kami lalui hingga akhirnya mata tertuju pada sebuah kampung adat, yakni pemukiman tradisional Suku Sasak, penduduk asli Pulau Lombok, NTB. Kebetulan yang pertama kami kunjungi ini adalah Suku Sasak di Desa Adat Sade.
Desa Adat Sade
Kampung ini masih terawat dengan sangat baik. Atap rumahnya
terbuat dari ilalang, dan lantai tanah litany dipel dengan menggunakan kotoran
kerbau. Dan kebetulan kami sempat menyaksikan sendiri, saat salah satu warga
mengepel dengan “kotoran kerbau”.
Penulis sempat “ngobrol” Bersama dengan seorang “sepuh”
Perempuan warga asli kampung ini. Kami ngobrol santai dan sempat menanyakan
perihal atapnya yang unik dan “sangat rendah”, sehingga siapapun yang masuk
mesti menundukkan kepala agar tidak “kedaduk” istilah Jawa nya.
Berkenaan dengan hal tersebut, beliau menuturkan bahwa
ada makna filosofis yang diinginkan oleh Masyarakat Sasak. Bahwa setiap tamu
harus bersikap sopan. Siapapun akan diterima dengan baik, asal mereka bisa
berlaku sopan dengan Masyarakat di sana. Namun, bagi siapapun yang datang, tapi
tidak bisa berlaku sopan, maka Masyarakat di sana tidak akan menerima mereka.
Perlu diketahui bahwa Masyarakat di Desa Sade ini,
rata-rata memeluk agama Islam. Di tempat ini terdapat sebuah masjid sederhana yang
menjadi pusat kegiatan keagamaan di sini, seperti pengajian, sholat berjamaah,
peringatan hari besar dan lain sebagainya.
Selain itu ada satu keyakinan, bahwa seorang gadis di desa
ini “belum boleh menikah” sebelum mereka bisa menenun. Oleh karena itu, semua
gadis di desa ini belajar menenum. Satu ketrampilan yang wajib dimiliki gadis
asli suku ini. Menariknya, di kampung ini ada satu koperasi khusus yang menjual
“hasil tenun” warga yang hasilnya dinikmati oleh semua warga kampung. Satu hal
yang menunjukkan kemandirian ekonomi, sekaligus nuansa kebersamaan yang kerap
kali hilang di Masyarakat perkotaan.
Menikmati Kuliner Laut
Setelah merasa cukup menikmati suasana di kampung adat
di Desa Adat Sade, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan
Pulau Lombok. Sepanjang jalan, mata kami dimanjakan dengan pesona alam yang
indah. Sungguh, hal ini menunjukkan betapa “Maha Kuasa” Allah yang telah menciptakan
segalanya untuk umat manusia.
Kami menuju ke beberapa tempat, termasuk diantaranya Pantai
Senggigi, dan Pantai Tanjung Aan. Namun, di hari pertama ini kami belum sempat
masuk ke pantainya. Kami menyempatkan makan siang di sebuah Pantai yang
sepertinya tidak masuk ke destinasi wisata. Namun, di tempat tersebut terdapat warung
yang menjual makanan khas laut.
Di tempat ini kami mencicipi kuliner laut. Mulai dari
ikan asap, hingga cumi-cumi. Masakan di sini cukup cocok dengan “lidah” kami
orang Jawa. Yang jelas kuliner di sini tidak mengecewakan dan bahkan membuat
kangen untuk bisa Kembali menikmatinya di kemudian hari.
Rangkaian Munas Mudir
Puas menikmati suasana di Pulai Lombok, kami ke Lokasi
dimana Munas Mudir Ma’had PTKIN se-Indonesia dilaksanakan, yakni di Hotel
Golden Palace Mataram. Kegiatan dimulai pada kisaran pukul 19.00 WITA.
Ada banyak kegiatan yang dilaksanakan dalam munas ini.
Hal yang paling penting adalah lahirnya rekomendasi dari sidang komisi. Selain ini
pada munas ini, juga menghasilkan kebulatan tekad untuk menerbitkan buku karya Bersama
bertemakan “Ekoteologi Kampus” yang sedang menjadi trend topik di Kementerian
Agama.
Disamping kegiatan Munas, terdapat juga lomba rihlah
ilmiah yang diikuti oleh mahasantri. Ada banyak cabang lomba yang
diselenggarakan. Namun, karena sesuatu dan lain hal, Tulungagung pada Munas dan
rihlah ilmiah tahun ini tidak mengirimkan delegasinya. Lomba dalam rangka
rihlah ilmiah tersebut dilaksanakan di kampus UIN Mataram.
Selesai rangkaian acara Munas dan Rihlah, para peserta
diajak ke Kantor Walikota Mataram untuk mengikuti Gala Diner dan Seminar Bersama
Wakil Wali Kota Mataram TGH. Mujiburrohman, S.H. dimana pada kesempatan ini,
beliau menyampaikan tentang peran penting Ma’had Al-Jami’ah dalam membentuk
mahasiswa yang memiliki ketajaman intelektual dan kedalaman spiritual. Materi
tersebut sangat menarik, terlebih karena beliau mengurai Mutiara Hikam karya
Syaikh Ibnu Athaillah Al-Sakandari.
Kampung Adat Ende
Setelah rangkaian acara munas berakhir, panitia
mengajak kami untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Lombok. Salah satunya
adalah Desa Adat Ende. Di hari pertama kami di Desa Adat Sade, sementara yang
kedua di Ende. Hal ini melengkapi kunjungan kami di dua Desa Adat di Pulau Lombok.
Sebagaimana Desa Adat Sade, desa ini juga
mempertahankan rumah tradisional kuno. Desa ini juga sangat ramah dengan
wisatawan. Ketika kami sampai di sini, desa ini penuh sesak dengan para
wisatawan yang berkunjung. Setiap pengunjung disambut dengan tradisi “peresean”,
yakni tradisi seni bela diri dan pertarungan adat yang mempertemukan dua pria
(disebut pepadu) yang saling memukul menggunakan tongkat rotan (penjalin) dan
berpelindung perisai dari kulit kerbau (ende). Tradisi ini menarik perhatian
dari para wisatawan untuk mengunjungi Desa Adat ini.
Sirkuit Mandalika
Kami juga berkesempatan untuk berkunjung dan masuk ke
Sirkuit Mandalika. Yakni tempat dimana biasanya digelar balap mobil. Kami berkesempatan
masuk dan naik ke tribun utama di Mandalika.
Pantai Senggigi
Setelah itu kami menuju ke Pantai Senggigi, salah satu
Pantai di Pulau Lombok. Kami menikmati waktu untuk bersantai sebelum akhirnya
diantarkan ke Bandara.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar