Rabu, 03 Juni 2026

Catatan Munas Mudir di UIN Mataram

 

Catatan Munas Mudir di UIN Mataram

Tiba di Bandara Lombok
 

Catatan ini penulis buat, sebagai salah satu upaya untuk mengabadikan moment berharga yang diikuti, yakni Munas Mudir PTKIN se-Indonesia Tahun 2025 di UIN Mataram Nusa Tenggara Barat. Tepatnya yakni di Pulau Lombok. Penulis tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika pada akhirnya bisa menjejakkan kaki di tempat ini. Penulis berangkat bersama tiga rekan pengelola ma’had, yakni Mudir Ma’had Dr. KH. Zuhri, M.Si, Ashima Faidati, M.H.I, dan Ruly Priantilianingtiasari, S.E., M.Pd., M.Sy.


Keberangkatan


Sesuai dengan rencana, kami berangkat dari kampus pada menjelang Shubuh. Hal ini dikarenakan jadwal keberangkatan pesawat adalah pukul 10.00 WIB.


Oleh karena rute perjalanan yang tidak memungkinkan untuk lewat wilayah dimana saya tinggal, maka penulis memutuskan untuk menginap di Ma’had. Tepat pada kisaran pukul 03.00 WIB, Pak Agung, Driver kampus sudah sampai di Ma’had untuk selanjutnya berangkat ke Bandara Internasional Juanda Surabaya.


Perjalanan berjalan dengan lancar. Kami tiba di Bandara pada kisaran pukul 08.30 WIB. Kami sarapan Bersama di kantin luar Bandara. Setelah itu, masuk ke Bandara.


Tiba di Mataram


Setiba di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kami langsung dijemput oleh driver yang sebelumnya telah dipesan melalui teman pak Mudir. Kami tiba pada kisaran pukul 10.00 WITA.


Karena jadwal pembukaan acara masih setelah maghrib, maka kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengunjungi beberapa wilayah di Lombok, NTB. Kami berjalan menyusuri jalan-jalan kota Mataram di berbagai tempat. Kami menikmati pesona alam yang indah di sepanjang jalan yang kami lalui hingga akhirnya mata tertuju pada sebuah kampung adat, yakni pemukiman tradisional Suku Sasak, penduduk asli Pulau Lombok, NTB. Kebetulan yang pertama kami kunjungi ini adalah Suku Sasak di Desa Adat Sade.


Desa Adat Sade


Kampung ini masih terawat dengan sangat baik. Atap rumahnya terbuat dari ilalang, dan lantai tanah litany dipel dengan menggunakan kotoran kerbau. Dan kebetulan kami sempat menyaksikan sendiri, saat salah satu warga mengepel dengan “kotoran kerbau”.




Penulis sempat “ngobrol” Bersama dengan seorang “sepuh” Perempuan warga asli kampung ini. Kami ngobrol santai dan sempat menanyakan perihal atapnya yang unik dan “sangat rendah”, sehingga siapapun yang masuk mesti menundukkan kepala agar tidak “kedaduk” istilah Jawa nya.


Berkenaan dengan hal tersebut, beliau menuturkan bahwa ada makna filosofis yang diinginkan oleh Masyarakat Sasak. Bahwa setiap tamu harus bersikap sopan. Siapapun akan diterima dengan baik, asal mereka bisa berlaku sopan dengan Masyarakat di sana. Namun, bagi siapapun yang datang, tapi tidak bisa berlaku sopan, maka Masyarakat di sana tidak akan menerima mereka.


Perlu diketahui bahwa Masyarakat di Desa Sade ini, rata-rata memeluk agama Islam. Di tempat ini terdapat sebuah masjid sederhana yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di sini, seperti pengajian, sholat berjamaah, peringatan hari besar dan lain sebagainya.


Selain itu ada satu keyakinan, bahwa seorang gadis di desa ini “belum boleh menikah” sebelum mereka bisa menenun. Oleh karena itu, semua gadis di desa ini belajar menenum. Satu ketrampilan yang wajib dimiliki gadis asli suku ini. Menariknya, di kampung ini ada satu koperasi khusus yang menjual “hasil tenun” warga yang hasilnya dinikmati oleh semua warga kampung. Satu hal yang menunjukkan kemandirian ekonomi, sekaligus nuansa kebersamaan yang kerap kali hilang di Masyarakat perkotaan.


Menikmati Kuliner Laut


Setelah merasa cukup menikmati suasana di kampung adat di Desa Adat Sade, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan Pulau Lombok. Sepanjang jalan, mata kami dimanjakan dengan pesona alam yang indah. Sungguh, hal ini menunjukkan betapa “Maha Kuasa” Allah yang telah menciptakan segalanya untuk umat manusia.


Kami menuju ke beberapa tempat, termasuk diantaranya Pantai Senggigi, dan Pantai Tanjung Aan. Namun, di hari pertama ini kami belum sempat masuk ke pantainya. Kami menyempatkan makan siang di sebuah Pantai yang sepertinya tidak masuk ke destinasi wisata. Namun, di tempat tersebut terdapat warung yang menjual makanan khas laut.


Di tempat ini kami mencicipi kuliner laut. Mulai dari ikan asap, hingga cumi-cumi. Masakan di sini cukup cocok dengan “lidah” kami orang Jawa. Yang jelas kuliner di sini tidak mengecewakan dan bahkan membuat kangen untuk bisa Kembali menikmatinya di kemudian hari.


Rangkaian Munas Mudir


Puas menikmati suasana di Pulai Lombok, kami ke Lokasi dimana Munas Mudir Ma’had PTKIN se-Indonesia dilaksanakan, yakni di Hotel Golden Palace Mataram. Kegiatan dimulai pada kisaran pukul 19.00 WITA.



Ada banyak kegiatan yang dilaksanakan dalam munas ini. Hal yang paling penting adalah lahirnya rekomendasi dari sidang komisi. Selain ini pada munas ini, juga menghasilkan kebulatan tekad untuk menerbitkan buku karya Bersama bertemakan “Ekoteologi Kampus” yang sedang menjadi trend topik di Kementerian Agama.


Disamping kegiatan Munas, terdapat juga lomba rihlah ilmiah yang diikuti oleh mahasantri. Ada banyak cabang lomba yang diselenggarakan. Namun, karena sesuatu dan lain hal, Tulungagung pada Munas dan rihlah ilmiah tahun ini tidak mengirimkan delegasinya. Lomba dalam rangka rihlah ilmiah tersebut dilaksanakan di kampus UIN Mataram.



Selesai rangkaian acara Munas dan Rihlah, para peserta diajak ke Kantor Walikota Mataram untuk mengikuti Gala Diner dan Seminar Bersama Wakil Wali Kota Mataram TGH. Mujiburrohman, S.H. dimana pada kesempatan ini, beliau menyampaikan tentang peran penting Ma’had Al-Jami’ah dalam membentuk mahasiswa yang memiliki ketajaman intelektual dan kedalaman spiritual. Materi tersebut sangat menarik, terlebih karena beliau mengurai Mutiara Hikam karya Syaikh Ibnu Athaillah Al-Sakandari.


Kampung Adat Ende


Setelah rangkaian acara munas berakhir, panitia mengajak kami untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Lombok. Salah satunya adalah Desa Adat Ende. Di hari pertama kami di Desa Adat Sade, sementara yang kedua di Ende. Hal ini melengkapi kunjungan kami di dua Desa Adat di Pulau Lombok.



Sebagaimana Desa Adat Sade, desa ini juga mempertahankan rumah tradisional kuno. Desa ini juga sangat ramah dengan wisatawan. Ketika kami sampai di sini, desa ini penuh sesak dengan para wisatawan yang berkunjung. Setiap pengunjung disambut dengan tradisi “peresean”, yakni tradisi seni bela diri dan pertarungan adat yang mempertemukan dua pria (disebut pepadu) yang saling memukul menggunakan tongkat rotan (penjalin) dan berpelindung perisai dari kulit kerbau (ende). Tradisi ini menarik perhatian dari para wisatawan untuk mengunjungi Desa Adat ini.


Sirkuit Mandalika

Sirkuit Mandalika


Kami juga berkesempatan untuk berkunjung dan masuk ke Sirkuit Mandalika. Yakni tempat dimana biasanya digelar balap mobil. Kami berkesempatan masuk dan naik ke tribun utama di Mandalika.


Pantai Senggigi


Setelah itu kami menuju ke Pantai Senggigi, salah satu Pantai di Pulau Lombok. Kami menikmati waktu untuk bersantai sebelum akhirnya diantarkan ke Bandara.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Munas Mudir di UIN Mataram

  Catatan Munas Mudir di UIN Mataram Tiba di Bandara Lombok   Catatan ini penulis buat, sebagai salah satu upaya untuk mengabadikan moment...