Maftukhin:
Pemimpin Visioner, Inklusif, dan Berorientasi Peradaban
Saya pertama kali mengenal beliau ketika menempuh pendidikan
strata satu pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di STAIN
Tulungagung. Pertemuan itu bukan terjadi di ruang perkuliahan, melainkan dalam
kegiatan “Sekolah Gender” yang diselenggarakan oleh organisasi ekstra kampus,
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sunan Ampel. Pada saat
itu, beliau menjadi pemateri yang menyampaikan gagasan mengenai posisi
perempuan dalam Islam.
Sejak pertemuan pertama itu, saya melihat beliau sebagai sosok yang humoris, komunikatif, inklusif, sekaligus visioner. Beliau menyampaikan materi dengan gaya yang kritis, filosofis, namun tetap santai dan penuh humor. Gaya seperti itu tampaknya melekat kuat dalam dirinya, baik ketika berpidato, memberi sambutan, maupun menjadi pemateri, bahkan setelah beliau menjabat sebagai rektor. Pertemuan tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Beliau adalah pribadi yang rendah hati, humoris, komunikatif, inklusif, tetapi tetap kritis dan memiliki pandangan jauh ke depan.
Perjumpaan tersebut kemudian berlanjut dalam berbagai forum
kegiatan ekstra maupun intra kampus, salah satunya bedah buku Kurikulum Metodologi Studi Islam yang
diselenggarakan di Auditorium STAIN Tulungagung. Forum itu menghadirkan tiga
narasumber, yakni Bapak Ali Rohmat, dosen senior STAIN Tulungagung yang dikenal
disiplin dan mengampu mata kuliah Metodologi Studi Islam; Akhol Firdaus,
aktivis EL-SAD Surabaya; dan Bapak Maftukhin, dosen Filsafat STAIN Tulungagung.
Dua narasumber terakhir berperan sebagai pembanding.
Sebagai pengampu mata kuliah, Bapak Ali Rohmat tentu memaparkan
materi Metodologi Studi Islam dengan sangat baik. Namun, posisinya yang
berhadapan dengan dua narasumber yang memiliki keahlian dalam bidang filsafat
tentu tidak mudah, terutama ketika harus mempertahankan Metodologi Studi Islam
dari kritik yang tajam. Akhol Firdaus menulis artikel berjudul Kurikulum MSI yang Malang Kadak,
sedangkan Bapak Maftukhin menulis artikel berjudul Metodologi Studi Islam yang Tidak Metodologis. Keduanya
menyampaikan kritik yang tajam terhadap pendekatan Metodologi Studi Islam dari
sudut pandang filsafat.
Setelah lulus strata satu, saya tidak langsung melanjutkan studi
ke jenjang strata dua. Saya sempat mengikuti perkuliahan selama dua minggu,
namun kemudian memutuskan untuk keluar terlebih dahulu guna mempersiapkan diri.
Saya bekerja di beberapa tempat dan membuka les untuk anak-anak sekolah dasar.
Setelah satu tahun, saya akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan studi
pada jenjang strata dua, yakni Program Magister Pendidikan Islam dengan
konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam di STAIN Tulungagung, tepatnya pada
tahun 2007.
Pada masa itu, belum banyak dosen di STAIN yang bergelar doktor.
Jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari, berbeda dengan kondisi sekarang
ketika dosen bergelar doktor, bahkan profesor, jumlahnya jauh lebih banyak.
Salah satunya adalah Dr. Maftukhin, M.Ag.,
yang merupakan salah satu dosen lokal STAIN dan mengajar di jenjang strata dua.
Pada masa itulah saya semakin mengenal sosok Maftukhin sebagai
dosen, pemikir, dan pribadi yang visioner. Tidak jauh berbeda dari kesan saya
saat masih S1, beliau menyampaikan materi dengan gaya yang santai tetapi
serius, humoris, dan terbuka terhadap kritik. Tidak jarang saya terlibat
perdebatan dengan beliau di kelas karena adanya perbedaan pandangan.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa beliau akan menjadi seorang
rektor. Sejak awal mengenalnya, seolah-olah tidak ada tanda yang mengarah ke
sana. Namun, kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Maftukhin terpilih menjadi
ketua STAIN beberapa bulan setelah saya menyelesaikan studi pada jenjang strata
dua.
Saya termasuk orang yang beruntung karena diberi kesempatan untuk
mengabdi di kampus yang telah banyak membentuk diri saya. Sebagai anak petani
sederhana, dengan ayah yang hanya lulusan sekolah dasar dan ibu yang menempuh
pendidikan aliyah, saya merasa sangat bersyukur dapat berkontribusi di
almamater ini. Rasa syukur itu mendorong saya untuk mengabdi sebaik mungkin.
Sebagai bawahan, saya mengenal Maftukhin sebagai pemimpin yang
visioner. Beliau memiliki pandangan jauh ke depan untuk membawa STAIN yang
belum banyak dikenal menjadi kampus yang besar dan diperhitungkan. Hal itu
dibuktikan melalui kerja kerasnya, sehingga proses transformasi STAIN yang
telah dirintis pada periode sebelumnya berhasil diwujudkan melalui alih status
menjadi IAIN, kemudian UIN. Ini menjadi bukti nyata dedikasinya dalam
membesarkan kampus.
Cita-cita besar beliau adalah menjadikan kampus ini sebagai pusat
studi Islam sekaligus pusat peradaban di masa mendatang. Karena itu, pada 12
Juli 2016, bertepatan dengan momentum halal bihalal, beliau mendeklarasikan
IAIN kala itu sebagai kampus dakwah dan peradaban. Istilah dakwah
merepresentasikan semangat keislaman, mengingat secara historis kampus ini
didirikan oleh para ulama untuk menyiapkan calon-calon ulama yang siap
mengemban misi dakwah. Selain itu, beliau juga membayangkan UIN sebagai rujukan
studi Islam, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
Di sisi lain, beliau juga membayangkan UIN sebagai pusat
peradaban. Gagasan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berangkat dari
keyakinannya bahwa Indonesia pernah menjadi bangsa besar yang berperan sebagai
pusat peradaban dunia, yaitu pada masa Majapahit. Tulungagung, sebagai lokasi
berdirinya kampus ini, dipandang memiliki posisi strategis dan nilai spiritual
dalam konteks sejarah Majapahit. Hal ini antara lain ditandai oleh keberadaan
makam Gayatri, seorang putri Majapahit yang memilih menempuh kehidupan
spiritual hingga akhir hayatnya di Tulungagung. Karena itu, gedung terakhir
yang dibangun pada masa kepemimpinannya dinamakan Prajna Paramita, yang bermakna kesempurnaan dan kebijaksanaan.
Beliau berharap agar masa akhir kepemimpinannya menjadi wujud kesempurnaan
pengabdiannya kepada UIN Tulungagung yang dicintainya.
Purna Rektor dan Masa-masa Akhir Hayatnya
Setelah masa jabatannya sebagai rektor berakhir, beliau tetap
mengabdikan diri untuk kemajuan UIN Tulungagung. Beliau menjabat sebagai Ketua
Dewan Penyantun. Dedikasinya terhadap kemajuan kampus sangat luar biasa.
Setelah beliau tidak lagi menjabat sebagai rektor, saya sempat
berfoto bersama beliau seusai pelantikan PPPK. Saat itu saya bersama Pak
Nasichin bertemu di depan Gedung Prajna Paramita. Beliau datang dengan sepeda
listrik yang biasa digunakannya untuk berangkat ke kampus pada masa-masa akhir hidupnya.
Beliau sempat berkata, “Alhamdulillah, ora ngajar madin ora popo to? Diganti
karo sing luwih apik. Moso wis doktor kok mek mulang madin, apa kata dunia?”
sambil tertawa, sebagaimana ciri khasnya.
Diakui atau tidak, beliau merupakan salah satu tokoh penting di
balik pembelajaran madin di UIN Tulungagung. Meskipun sebagian orang kerap
menilai pemikirannya kontroversial, beliau memiliki perhatian yang besar
terhadap pendidikan pesantren. Bahkan ketika saya dan beberapa teman
ditempatkan di Ma’had setelah diterima sebagai Dosen Tetap Non-PNS, beliau
dalam pengarahan pada acara kema’hadan menyampaikan bahwa beliau tidak ingin
Ma’had UIN Tulungagung meniru Ma’had UIN Malang yang menekankan aspek kebahasaan,
karena menurut beliau hal tersebut sudah menjadi wilayah Pusat Bahasa. Beliau
menginginkan Ma’had UIN Tulungagung benar-benar seperti pesantren, yang merawat
tradisi-tradisi turats.
Pada akhir hayatnya, Maftukhin tetap menunjukkan kecintaannya
terhadap tradisi pesantren. Beliau mengadakan “ngaji kehidupan” yang disiarkan
melalui SATU Televisi, saluran resmi UIN Tulungagung. Kajian tersebut
disampaikan dengan metode maknani gandul
ala pesantren. Demikian halnya setiap bulan Ramadhan beliau juga mengadakan
kegiatan ngaji turats di kediamannya di Desa Tunggulsari Kecamatan Kedungwaru
Kabupaten Tulungagung. Tetap dengan menggunakan metode “maknani gandul”.
Pada
pagi hari Rabu, 20 Mei 2026, saya tiba di kampus sekitar pukul 07.05 WIB. Saat
itu, Pak Mudir dan Pak Takmir sedang bersiap menuju RS Iskak Tulungagung. Prof.
Maftukhin, M.Ag.
telah berpulang. Saya segera ikut menghormati beliau. Sosok penting di balik
transformasi STAIN menjadi IAIN dan IAIN menjadi UIN itu telah kembali ke
hadirat Allah Swt. Selamat jalan, Prof. Semoga husnul khatimah. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar