Jumat, 15 Mei 2026

Kriteria Menjadi Umat Terbaik

 



خُطْبَةُ الْجُمُعَةِ

1447 H / 2026 M

Kriteria Menjadi Umat Terbaik

 

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا , وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أنْ هَدَانَا اللهُ ، أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَ أشْهَدُ أنَّ سيدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الطَّاهِرِيْنِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أمَّا بَعْدُ,  فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ


Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah...


Melalui mimbar khutbah ini, khatib mengajak kepada pribadi khatib khususnya dan jama’ah umumnya, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Baik secara kuantitas maupun kualitas. Karena dengan bekal iman dan taqwa ini lah, kita akan menjadi pribadi yang beruntung baik di dalam menjalani kehidupan di dunia, lebih-lebih saat kembali menghadap-Nya, di akhirat.


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,


Di era yang sarat dengan berbagai kemajuan di segala bidang, khususnya teknologi informasi sebagaimana kita rasakan bersama, ada baiknya kita kembali merenungkan dan memahami firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran (3); 110. Allah Swt berfirman:


﴿كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠﴾


Artinya: Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (Qs. Ali Imran (3); 110)


Melalaui ayat tersebut, Allah Swt. Mengabarkan kepada kita, umat muslim, bahwa kita bisa menjadi umat terbaik di dunia ini, melebihi umat-umat yang lain. Namun, ada syarat yang ditetapkan-Nya, yakni amar ma’ruf, nahi munkar, dan iman billah.


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,


Syarat pertama, umat muslim bisa menjadi umat terbaik jika mau untuk memerintahkan kepada al-ma’roef. Al-ma’roef secara sederhana diartikan sebagai sesuatu yang dikenal, diketahui, atau diakui kebaikannya. Al-Ma’ruf adalah kebajikan yang “dikenal” oleh hati dan jiwa manusia sebagai sesuatu yang baik.


Dalam konteks islam maka al-ma’ruf merujuk pada segala bentuk perbuatan, sikap, atau perkataan yang dinilai baik oleh syari’at (agama), akal sehat, dan diterima oleh norma masyarakat. Misalnya, taat kepada Allah, melakukan perilaku terpuji, jujur dalam bertutur kata, menjaga silaturrahmi, dan menjaga hubungan sosial yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Kriteria Al-Ma’ruf perbuatan tersebut dinilai baik berdasar Al-Qur’an dan Al-Sunnah (syara’) serta disepakati kebaikannya oleh manusia. Karena itu, orang muslim yang mau dan mampu memerintahkan kepada dirinya dan orang lain untuk berbuat al-ma’ruf adalah umat terbaik.


Jamaah jum’ah yang dirahmati Allah,


Syarat kedua adalah Nahi Munkar, melarang perbuatan munkar. Munkar artinya sesuatu yang diingkari, tidak dikenal, atau asing. Yakni segala perbuatan, perkataan, atau tindakan yang dibenci Allah, melanggar syari’at agama, bertentangan dengan norma masyarakat, serta diingkari oleh akal sehat dan fitrah manusia. Misalnya, segala jenis kemaksiatan, dosa besar, kedzaliman, ketidakadilan, merampok, mencuri, membunuh, memutus tali silaturahmi, merusak tatanan masyarakat dan lain sebagainya. Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan hal yang munkar yang harus dicegah oleh siapapun yang melihatnya. Rasulullah Saw bersabda:


عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمانرواه مسلم .


Artinya: Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra. Ia berkata, Saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda; “Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, maka jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, maka apabila ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,


Hadis tersebut memerintahkan agar siapapun diantara kita yang melihat kemungkaran untuk segera mencegahnya. Jangan sampai perbuatan munkar dibiarkan, sehingga berdampak buruk baik bagi pelakunya, maupun orang lain. Allah Swt juga mengingatkan bahwa orang-orang kufur dari Bani Israil dilaknat karena mereka tidak mau amar ma’ruf nahi munkar. Allah Swt berfirman:


﴿لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ٧٩﴾

 

Artinya: Orang-orang yang kufur dari Bani Israil telah dilaknat (oleh Allah) melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh, itulah seburuk-buruk apa yang selalu mereka lakukan. (Qs. Al-Maidah (5); 78-79).


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,


Syarat ketiga yang harus dipenuhi umat islam jika ingin menjadi umat terbaik adalah beriman kepada Allah. Tidak semua umat islam beriman kepada Allah. Pernyataan masuk islam dengan mengucap syahadat belum cukup menjadi tanda keimanan. Allah mengingatkan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat (49); 14:


﴿قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤﴾

 

Artinya: Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hujurat (49); 14)


Ketiga syarat tersebut harus terpenuhi untuk menjadikan kita sebagai umat terbaik. Amar ma’ruf nahi munkar yang tidak didasari keimanan kepada Allah, secara dhahir bermanfaat kepada sesama, namun tidak dihadapan Allah. Karena itu, ayat ini mengisyaratkan bahwa Iman bukan sekadar pengakuan di dalam hati, namun iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata.


Dalam konteks hari ini, dimana informasi tersebar bebas secara luas melalui berbagai media, baik lewat jejaring medsos, seperti facebook, twitter, tiktok, youtube, maupun jejaring lainnya. Maka kita semua bertanggungjawab untuk mengambil peran amar ma’ruf dan nahi munkar di dalamnya. Meski, tidak semuanya, namun kita bisa mengambil bagian di dalamnya. Hal ini menjadi penting karena betapa dahsyatnya informasi buruk yang bisa merusak para penggunanya jika tidak bijak dalam menfilter berbagai berita yang dilihat atau dibaca.


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,


Tidak semua orang alim, cerdik pandai, intelektual mau untuk mengambil bagian dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Allah telah mengisyaratkan itu dalam kelanjutan ayat tersebut dengan menyatakan:


وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠﴾

 

Artinya: Seandainya ahli kitab mau beriman, pastilah hal itu lebih baik bagi mereka, sebagian diantara mereka ada yang beriman dan sebagian diantara mereka adalah orang-orang fasik.


Karena itu kita tidak merasa heran, bahwa di zaman yang ditandai dengan kecanggihan teknologi saat ini, banyak orang alim yang tidak konsekuen dengan kealimannya. Banyak intelektual yang justru terpedaya akan ketinggian ilmunya, banyak ulama yang justru terjebak dengan jabatan duniawinya. Semua telah diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur’an. Bahkan, kita pun tidak bisa menjamin diri kita akan tetap menjadi orang yang baik. Oleh sebab itu yang tetap harus kita lakukan adalah senantiasa berikhtiar agar kita istiqomah dalam kebaikan dan berdo’a, memohon agar kita selalu dalam hidayah taufiq-Nya.


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,


Akhir khutbah, mari kita berupaya semaksimal mungkin agar kita selalu berada di jalan-Nya. Mari kita ambil bagian dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan kemampuan kita. Jangan lupa selalu menanamkan keimanan di dalam lubuk hati kita. Semoga kita termasuk umat terbaik sebagaimana yang difirmankan-Nya. Dan, ketika tiba saatnya kita menghadap-Nya, kita menghadap-Nya dengan husnul khatimah. Aamiin

 

بارك الله لي ولكم فى القرأن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم وتقبل مني تلاوته إنه هو البر الرؤوف الرحيم وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

 

الخطبة الثاني

 

اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَاونبينا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا.

 اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ ,وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ  بِاَمْرٍ  بَدَأَ  فِيْهِ بِنَفْسِهِ , وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. 

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِك اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَانَ وَعَلِىّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ  إنك سميع قريب مجيب الدعوات اللَّهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ, وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ, وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ, وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ, وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ, وَ دَمِّرْ أعدائك اَعْدَاءَالدِّيْنِ ,وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

 رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’

  Ziarah Haji dan Maqbarah Aulia’ Bersama Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. dan Istri Prolog Haji merupakan salah satu diantara rukun ...