Kamis, 30 April 2026

Dzulqa’dah Simbol Istiqamah

 


خُطْبَةُ الْجُمُعَةِ

1447 H / 2026 M

Dzulqa’dah Simbol Istiqamah

 

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا , وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أنْ هَدَانَا اللهُ ، أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَ أشْهَدُ أنَّ سيدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الطَّاهِرِيْنِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أمَّا بَعْدُ,  فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah...

Melalui mimbar khutbah ini, khatib mengajak kepada pribadi khatib khususnya dan jama’ah umumnya, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Baik secara kuantitas maupun kualitas. Karena dengan bekal iman dan taqwa ini lah, kita akan menjadi pribadi yang beruntung baik di dalam menjalani kehidupan di dunia, lebih-lebih saat kembali menghadap-Nya, di akhirat.


Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Mari kita bersyukur, karena atas nikmat dan karunia-Nya, saat ini kita bisa duduk bersama di masjid Baitul Hakim, untuk menunaikan kewajiban kita sebagai muslim, yakni shalat jum’at, di mana moment jum’at ini adalah jum’at pertama di bulan Dzul Qa’dah. Satu bulan diantara empat bulan yang dimuliakan, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.

Sebagian ulama meyebut bahwa Dzul-Qa’dah termasuk bulan yang mulia karena termasuk dalam empat bulan haram sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Taubah ayat 36, bagian dari bulan haji, waktu umum umrah Rasulullah saw., larangan pertikaian sejak sebelum agama islam hadir, dan waktu untuk mempersiapkan diri sebelum menunaikan haji.

Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Jika kita tilik lebih jauh dari nama dzulqa’dah yang merupakan gabungan dari kata dzu yang artinya mempunyai, dan kata qa’dah yang berakar dari kata قعد يقعد قعدا قعود artinya duduk, sehingga dzulqa’dah diartikan dengan “bulan duduk-duduk”, maka terdapat makna mendalam di dalamnya. Duduk adalah symbol istirahat, kemapanan, kenyamanan, mulai mendapatkan tempat posisi, orang jawa menyebut bilangan 21 sampai 29 dengan likur, dengan makna “lungguh kursi”, artinya umumnya orang diusia itu mulai mendapatkan pekerjaan yang akan ditekuni.

Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Dzulqa’dah terletak setelah Ramadhan, dan Syawal, dua bulan yang popular bagi umat muslim. Ramadhan bulan dimana setiap muslim ditempa, sebulan lamanya, diperintah untuk berpuasa, dengan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tidak boleh makan, minum, dan hal lain yang membatalkannya, memperbanyak ketaatan dengan menjalankan berbagai ibadah semisal tarawih, tadarus, berbagi takjil, dan lainnya dengan kabar gembira dilipat gandakan pahala, dan diampuni dosa, yang telah lalu. Setiap muslim berlomba-lomba untuk mencari maghfirah Allah, meraup pahala, serta berharap agar memperoleh surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi. Allah Swt.

ﵟوَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ 133

Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Qs. Ali Imran; (3); 133).

Maka Ramadhan adalah bulan dimana umat muslim di “gembleng”, ditempa, dimasukkan ke dalam kawah “candradimuka” agar menjadi manusia yang unggul dengan symbol kemenangannya, “idul fitri” Kembali suci, bersih, sebagaimana saat pertama kali lahir dari rahim ibu, tanpa dosa sama sekali.

“Idul fitri”, simbol kemenangan ini berada di bulan “Syawal” yang artinya adalah meningkat. Karena itu hari raya bukan sekadar berpakaian baru, bersandal baru, makan makanan lezat, namun hari raya sejatinya adalah kebebasan manusia dari belenggu duniawi yang mengikat, nafsu yang menekan, dan pada akhirnya meningkat kualitas dan kuantitas “ubudiyah” seorang hamba kepada Rab-nya.

Bila Ramadhan adalah bulan penempaan, Syawal bulan peningkatan, maka Dzulqa’dah adalah bulan “keistiqamaahan.” Bulan yang diharapkan agar setiap mukmin yang beridul fitri mampu menjaga peningkatan ibadahnya dengan berlaku istiqamah. Allah Swt. berfirman:

 

ﵟإِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 30 ﵞ 

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Fushilat 30). Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman:

ﵟإِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 13 أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 14 ﵞ 

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istikamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih . Mereka itulah para penghuni surga (dan) kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf 13-14)

Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Ketiga ayat di atas menunjuk pada perilaku “istiqamah”. Setelah pengakuan “ketundukan” manusia kepada Tuhannya, kemudian diikuti dengan keistiqamahan, maka turun kepada mereka para malaikat, sehingga mereka tidak lagi merasa takut, apalagi bersedih. Ini menunjukkan satu kondisi dimana keterikatan manusia pada sebab “duniawi” telah lenyap, sehingga hatinya hanya terpaut pada “kekuasaan Rab-nya.”

Jika kita tarik lebih lanjut, ini merupakan symbol perjalanan spiritual manusia dalam menuju Tuhannya. Jika dalam tarekat kita mengenal ada farqul awwal, jam’u, dan farqu al-tsani, maka Ramadhan adalah farqul awwal dimana seorang berupaya dengan seluruh kemampuannya untuk ‘takhalli, dan tahalli”. Mengosongkan diri dari berbagai perilaku, sifat, akhlaq yang buruk, dan berusaha sekuat mungkin menghias diri dengan berbagai akhlaq yang terpuji, maka puncaknya adalah keterbebasan dari ikatan keduniawian dalam “jam’u”, masyghul dengan “Rabnya”, lupa dengan dirinya, sehingga harus diselamatkan dengan “sir”, mursyid pembimbingnya untuk lahir Kembali dengan keadaan baru dalam wujud farqu al-tsani, sadar dirinya manusia, tetapi hatinya tetap bersama Rabnya. Orang Jawa mengatakan “Sepi Sajeroning Rame, Rame Sajeroning Sepi”. Dalam keadaan hening hatinya tetap ramai dengan dzikir kepada Rabnya, dan dalam keadaan ramai hatinya tetap hening jauh dari hiruk-pikuk duniawi yang membelenggunya.

Jama’aah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Dzulqa’dah adalah symbol keistiqamaahan pengakuan Rab kita kepada Allah Sang Pemilik kehidupan. Jika kita mampu mempertahankan peningkatan pengakuan “kehambaan” tersebut, maka tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sedih, yang ada hanyalah Gambaran dari ayat:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥

Artinya: Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (Al-Baqarah (2); 185).

Yaitu kita bersyukur pada setiap keadaan dan kondisi yang kita hadapi. Tanpa keluh kesah, tanpa merasa iri kepada yang lain, tanpa rasa dendam, hasud, dan tanpa permusuhan. Dimana tanda muttaqin sebagaimana termaktub dalam Surat Ali Imran adalah:

 

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 134 ﵞ 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali Imran 134)

Tanda orang yang sudah tidak lagi terikat dengan hiruk-pikuk dunia, karena hatinya telah “istiqamah” dengan “pengakuan kehambaannya”, bagi merekalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya dipersiapkan.

Semoga pada momentum Dzulqa’dah ini, kita diberikan kekuatan untuk berlaku istiqamah dalam peningkatan ubudiyah kita, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Meskipun kadar peningkatan itu belum maksimal, semoga kita merawatnya dengan baik, mensyukurinya, hingga Allah menambahkan karunia-Nya, dan hingga saatnya kita menghadapnya, Allah panggil kita dengan husnul khatimah. Aamiin.

 

بارك الله لي ولكم فى القرأن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم وتقبل مني تلاوته إنه هو البر الرؤوف الرحيم وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

 

الخطبة الثاني

 

اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَاونبينا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ ,وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ  بِاَمْرٍ  بَدَأَ  فِيْهِ بِنَفْسِهِ , وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِك اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

 اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَانَ وَعَلِىّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ  إنك سميع قريب مجيب الدعوات اللَّهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ, وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ, وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ, وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ, وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ, وَ دَمِّرْ أعدائك اَعْدَاءَالدِّيْنِ ,وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dzulqa’dah Simbol Istiqamah

  خُطْبَةُ الْجُمُعَةِ 1447 H / 20 26 M Dzulqa’dah Simbol Istiqamah   الحَمْدُ...