Rabu, 03 Maret 2021

Bapak Gerah

 

Bapak Gerah



Beberapa hari setelah hari raya Idul Adha menjadi hari-hari terakhir saya dan keluarga bersama bapak. Di hari raya itu, seperti biasanya bapak masih menjalani aktifitas kesehariannya. Ke belakang rumah “ngantong” bersama ibu. Sore hari sering ke rumah untuk sekedar duduk dan ngobrol bersama saya di teras. Kebetulan rumah saya hanya beberapa langkah dari rumah bapak/ibu.

Di saat hari raya tiba, sebagaimana biasa, di Musholla sebelah rumah diadakan penyembelihan qurban. Tahun kemarin, meski situasi pandemic, namun hal itu tidak mengurangi antusias warga di lingkungan untuk menyembelih binatang qurban. Enam ekor kambing, kalau tidak salah, jumlah binatang qurban yang disembelih di musholla sebelah rumah dengan jumlah jamaah beberapa KK saja.

Selasa, 02 Maret 2021

Sok Piye Kubronane?

 

Sok Piye Kubronane?



Akhir 2019 awal tahun 2020 dunia dikagetkan dengan munculnya virus covid-19 di Wuhan China yang pada awalnya hanya dianggap sebagai virus biasa sebagaimana lainnya. Pemerintah Indonesia bahkan saat itu meyakini bahwa virus itu tidak akan sampai ke tanah air hingga fakta membuktikan dengan ditemukannya beberapa kasus di Jakarta pada kira-kira pertengahan Januari 2020. Meski demikian nampaknya pemerintah saat itu belum melihat adanya ancaman serius dari virus ini sehingga situasi masih berjalan sebagaimana biasa hingga ditetapkannya kasus ini sebagai pandemic nasional bahkan dunia pada akhir bulan Maret 2020.

Bapak merupakan salah satu pengamal sholawat wahidiyah. Bapak aktif diberbagai kegiatan-kegiatan kewahidiyahan baik di desa maupun saat ada event-event yang memungkinka untuk diikuti secara langsung. Tentunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki baik dari sisi kesempatan, kesehatan, hingga finansial.

Sabtu, 20 Februari 2021

Niatan yang Menjadi Kenyataan, Cita-cita yang Takkan Pernah Menjadi Nyata

 

Niatan yang Menjadi Kenyataan, Cita-cita yang Takkan Pernah Menjadi Nyata



Satu kebahagiaan bagi saya terlahir di dunia sebagai putra bapak dan ibu. Orang yang telah merawat dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang, berjuang keras demi kebahagiaan putra-putrinya tanpa mengenal lelah. Semua waktu dicurahkan dalam mendidik putra-putrinya, tentu dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya, selain-Nya pasti banyak kekurangan dan keterbatasan.

Pepatah mengatakan, “Siapa yang mencari saudara tanpa cacat, maka hendaknya ia hidup di dunia tanpa teman.” Selama kita di dunia, dan sifat makhluk masih melekat, maka kesempurnaan itu tidak akan pernah ada. Kesempurnaan hanya absolut “Milik-Nya,” tanpa seorangpun mampu menandinginya.

Jumat, 19 Februari 2021

Yo, Tak Pangestoni, Ning Golek’o Dewe

 

Yo, Tak Pangestoni, Ning Golek’o Dewe



Pada awalnya saya memang tidak memiliki keinginan untuk belajar di bangku perkuliahan. Saya lebih tertarik untuk mempelajari ilmu-ilmu di pesantren terutama karena saya mungkin sangat terkesan dengan figure “kyai,” saat masih ngaji di pesantren. Namun, takdir berbicara lain sehingga saya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi hingga berhasil menyelesaikannya tepat waktu dan alhamdulillahnya dengan nilai yang memuaskan.

Di jenjang S1, saya menyelesaikan proses perkuliahan beberapa bulan lebih cepat dari teman-teman seangkatan. Bila teman-teman menyelesaikannya pada kisaran bulan Juni-Agustus, saya menyelesaikan semuanya dan menjalani sidang skripsi di bulan April. Tentu, di antara hal yang mendorong saya adalah supaya bisa segera melakukan hal lain di luar kuliah.

Selasa, 16 Februari 2021

“Cegukan” yang Tak Kunjung Mereda

 

“Cegukan” yang Tak Kunjung Mereda



Pasca operasi kepala yang dijalaninya setelah peristiwa kecelakaan, Alhamdulillah bapak bisa menjalani aktifitasnya sehari-hari sebagaimana biasanya. Tentunya, aktifitas tersebut tidak persis dengan sebelum kecelakaan tersebut. Tenaga bapak banyak berkurang, namun semangatnya sepertinya tidak pernah berkurang.

“Trauma” atas kejadian tersebut menghantui pikiran ibu, sehingga tidak lagi mengizinkan bapak untuk mengendarai sepeda motor. Jika hendak bepergian agak jauh, maka anak-anaknyalah yang mengantarnya ke mana beliau hendak pergi.

Meski kondisinya sudah tidak se ‘fit’ dulu, namun semangat beliau tidak pernah surut. Beliau tetap aktif di madrasah, pondok dan semua jama’ah yang beliau ikuti, mulai dari yasinan, tahlil, khotmil qur’an hingga mujahadahnya. Selain itu, beliau masih tetap beraktifitas sehari-hari di sawah dan di kebun.

Sabtu, 13 Februari 2021

Menjadi DPL KKN VDR di Tengah Pandemi

 

Menjadi DPL KKN VDR di Tengah Pandemi

Oleh: Muhamad Fatoni



Awal tahun 2020 sejumlah Negara di dunia dihebohkan dengan munculnya virus baru di Wuhan China. Berita yang tersebar di berbagai media sosial mengabarkan betapa dahsyatnya dampak yang diakibatkan oleh virus tersebut. Wuhan seolah yang sebelumnya ramai, berubah menjadi kota mati. Banyak dikabarkan mayat bergelimpangan di jalan sebagai akibat dari mewabahnya virus tersebut.

Pada awalnya, Negara-negara lain tidak sebegitu panic dengan berita tersebut. Virus yang selanjutnya akrab disebut dengan Corona itu, dianggap tidak akan menyebar ke Negara lain. Namun nyatanya, diluar dugaan virus ini menyebar begitu cepat di hampir seluruh Negara-negara dunia, hingga ditetapkan sebagai pandemic dunia. Ya, Pandemic Covid-19.

Sabtu, 30 Januari 2021

Ora Ono Wong Mati Goro-Goro Mulang

 

Ora Ono Wong Mati Goro-Goro Mulang



Artikel dengan judul serupa pernah penulis angkat beberapa waktu lalu. Meski judulnya sama tentu ada sisi-sisi berbeda yang penulis sajikan dalam artikel kali ini. Artikel yang khusus penulis susun sebagai upaya untuk mengenang almarhum bapak.

Selama hidupnya bapak tidak bisa dipisahkan dari pengabdiannya di madrasah baik di lingkungan masjid desa kami tinggal dan juga di pondok, tempat dimana bapak pernah “nyantri dan nyadong” barokah dari kyai. Tempat yang tentunya sangat lekat dengan pribadi bapak, meski tidak pernah terucap dengan kata. Terbukti, hingga menjelang wafatnya bapak masih tercatat aktif sebagai “guru ngaji” di sana.

Ya, bapak memang orang yang “getol” dalam menularkan apa yang dititipkan kepadanya berupa “ilmu” kepada generasi muda. Bapak tidak pernah mengenal lelah untuk mengajar. Bahkan disaat usianya yang senja, beliau masih semangat untuk mengajar.

Dzulqa’dah Simbol Istiqamah

  خُطْبَةُ الْجُمُعَةِ 1447 H / 20 26 M Dzulqa’dah Simbol Istiqamah   الحَمْدُ...