Ramadhan yang Berbeda
Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang
berbeda dari tahun sebelumnya, mengapa? Karena tahun ini Ramadhan disambut
dengan situasi yang sama sekali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya
semenjak Rajab menyapa, semua orang sibuk mempersiapkan kehadirannya dengan
berbagai kegiatan sosial keagamaan yang melibatkan pengerahan massa dalam
jumlah yang banyak, sebaliknya penyambutan tahun ini caranya berbeda.
Ya, pasca ditemukannya kasus covid-19 dan
persebarannya yang begitu massif, pemerintah mengambil kebijakan untuk
menyelamatkan jutaan nyawa warganya dengan melarang berkerumunnya masa. Mengaca
pada apa yang terjadi di negara-negara lain yang terimbas oleh covid-19,
semisal Italia.
Tentu, sebagai seorang muslim kita
berkewajiban untuk patuh pada umara’ dengan menjalankan sekuat mungkin apa yang
menjadi kebijakannya dengan tetap berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang
terjadi sebenarnya hanyalah karena “takdir” yang ditentukan-Nya semata. Namun,
sebagai manusia kita tetap disunnahkan untuk melakukan ikhtiar sebagai bagian
dari pengakuan kita akan “kelemahan” diri kita, bukan “menentang” qadha dan
qadar-Nya.
Apa yang ingin saya angkat dalam artikel ini
adalah sebuah refleksi atas apa yang selama ini kita lakukan namun tidak kita
sadari. Seringkali kita menganggap amal perbuatan yang kita lakukan selalu dan
selalu benar, sementara apa yang dilakukan oleh orang lain adalah salah di mata
kita. Sebagai keyakinan pribadi, tentu sah-sah saja. Tetapi sebagai seorang
yang menyadari akan kelemahan yang ada pada diri setiap manusia, tentu hal ini
kurang tepat apabila dipaksakan pada orang lain.
Covid-19 mulai muncul pada kisaran bulan
Rajab, bulan yang oleh para da’i dan muballigh dalam tausiyahnya disebut
sebagai bulan persiapan menyambut bulan Ramadhan. Bulan Rajab adalah waktunya
menanam, bulan Sya’ban waktunya merawat dan bulan Ramadhan waktunya panen. Sebagian
lain menyebut Rajab sebagai bulan taubat, Sya’ban sebagai bulan pembersihan
diri sementara Ramadhan adalah bulan diraihnya berlimpat gandanya amal.
Terlepas dari semua itu, benar tidaknya
penyebutan masing-masing bulan tersebut setidaknya kita ambil ibrah di
dalamnya, bahwa semenjak Rajab tiba semestinya umat muslim menyiapkan diri
sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang berkah. Bukan sekedar
mengadakan kegiatan-kegaiatan dhahir yang nampak meriah, lebih dari itu penyucian
jiwa dari berbagai kotoran hati yang karenanya secara dhahir dan bathin setiap
kita siap mengambil manfaat dan berkah Ramadhan.
Gerakan cuci tangan yang massif disuarakan di
setiap tempat saat ini, cukup lah menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya
menjaga kebersihan. Tidak hanya kebersihan namun Islam mengajarkan agar setiap
umatnya memperhatikan kesucian. Saking pentingnya kesucian selalu ditempatkan
di bab pertama dalam setiap pembahasan fiqih.
Gerakan stay at home, sosial
distancing, cuci tangan, memberikan pelajaran baru bagi kita menyambut
Ramadhan tahun ini. Kita yang diakui maupun tidak, seringkalii disibukkan
dengan pen-“citra”-an melalui berbagai akun media sosial, mapun kehidupan
sosial nyata, selayaknya saat ini mencerna kembali dawuh Syaikh Ibnu Athaillah
al-Sakandari, “Kuburkanlah dirimu di dalam bumi ketidak-nampakan (khumul).
Sebab sesuatu yang tumbuh dari benih ynag tidak ditanam di balik
ketidaknampakan tak akan sempurna buahnya”.
Meminjam istilah pak Ngainun Naim dalam status
watsapnya, “Saat ini bukan saatnya sok berani, tidak takut corona dan
semacamnya, saat ini adalah saat nya diam dan instropeksi diri”-(maaf jika
keliru prof.). Setidaknya apa yang beliau statuskan cukup mengajarkan kepada
kita bagaimana bersikap arif dalam menghadapi segala situasi.
Ramadhan sepekan lagi tiba,-insya Allah,
sekarang waktunya lebih menyiapkan diri dengan operasi mental, operasi jiwa,
menata niat sebaik-baiknya dan apapun yang terjadi di Ramadhan yang akan datang
semoga kita tetap bisa meraih keberkahannya. AAMIIN.

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusd
BalasHapus