Sabtu, 18 April 2020

Ramdhan yang Berbeda


Ramadhan yang Berbeda

Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang berbeda dari tahun sebelumnya, mengapa? Karena tahun ini Ramadhan disambut dengan situasi yang sama sekali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya semenjak Rajab menyapa, semua orang sibuk mempersiapkan kehadirannya dengan berbagai kegiatan sosial keagamaan yang melibatkan pengerahan massa dalam jumlah yang banyak, sebaliknya penyambutan tahun ini caranya berbeda.

Ya, pasca ditemukannya kasus covid-19 dan persebarannya yang begitu massif, pemerintah mengambil kebijakan untuk menyelamatkan jutaan nyawa warganya dengan melarang berkerumunnya masa. Mengaca pada apa yang terjadi di negara-negara lain yang terimbas oleh covid-19, semisal Italia.


Tentu, sebagai seorang muslim kita berkewajiban untuk patuh pada umara’ dengan menjalankan sekuat mungkin apa yang menjadi kebijakannya dengan tetap berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi sebenarnya hanyalah karena “takdir” yang ditentukan-Nya semata. Namun, sebagai manusia kita tetap disunnahkan untuk melakukan ikhtiar sebagai bagian dari pengakuan kita akan “kelemahan” diri kita, bukan “menentang” qadha dan qadar-Nya.

Apa yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah sebuah refleksi atas apa yang selama ini kita lakukan namun tidak kita sadari. Seringkali kita menganggap amal perbuatan yang kita lakukan selalu dan selalu benar, sementara apa yang dilakukan oleh orang lain adalah salah di mata kita. Sebagai keyakinan pribadi, tentu sah-sah saja. Tetapi sebagai seorang yang menyadari akan kelemahan yang ada pada diri setiap manusia, tentu hal ini kurang tepat apabila dipaksakan pada orang lain.

Covid-19 mulai muncul pada kisaran bulan Rajab, bulan yang oleh para da’i dan muballigh dalam tausiyahnya disebut sebagai bulan persiapan menyambut bulan Ramadhan. Bulan Rajab adalah waktunya menanam, bulan Sya’ban waktunya merawat dan bulan Ramadhan waktunya panen. Sebagian lain menyebut Rajab sebagai bulan taubat, Sya’ban sebagai bulan pembersihan diri sementara Ramadhan adalah bulan diraihnya berlimpat gandanya amal.

Terlepas dari semua itu, benar tidaknya penyebutan masing-masing bulan tersebut setidaknya kita ambil ibrah di dalamnya, bahwa semenjak Rajab tiba semestinya umat muslim menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang berkah. Bukan sekedar mengadakan kegiatan-kegaiatan dhahir yang nampak meriah, lebih dari itu penyucian jiwa dari berbagai kotoran hati yang karenanya secara dhahir dan bathin setiap kita siap mengambil manfaat dan berkah Ramadhan.

Gerakan cuci tangan yang massif disuarakan di setiap tempat saat ini, cukup lah menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya menjaga kebersihan. Tidak hanya kebersihan namun Islam mengajarkan agar setiap umatnya memperhatikan kesucian. Saking pentingnya kesucian selalu ditempatkan di bab pertama dalam setiap pembahasan fiqih.

Gerakan stay at home, sosial distancing, cuci tangan, memberikan pelajaran baru bagi kita menyambut Ramadhan tahun ini. Kita yang diakui maupun tidak, seringkalii disibukkan dengan pen-“citra”-an melalui berbagai akun media sosial, mapun kehidupan sosial nyata, selayaknya saat ini mencerna kembali dawuh Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari, “Kuburkanlah dirimu di dalam bumi ketidak-nampakan (khumul). Sebab sesuatu yang tumbuh dari benih ynag tidak ditanam di balik ketidaknampakan tak akan sempurna buahnya”.

Meminjam istilah pak Ngainun Naim dalam status watsapnya, “Saat ini bukan saatnya sok berani, tidak takut corona dan semacamnya, saat ini adalah saat nya diam dan instropeksi diri”-(maaf jika keliru prof.). Setidaknya apa yang beliau statuskan cukup mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap arif dalam menghadapi segala situasi.

Ramadhan sepekan lagi tiba,-insya Allah, sekarang waktunya lebih menyiapkan diri dengan operasi mental, operasi jiwa, menata niat sebaik-baiknya dan apapun yang terjadi di Ramadhan yang akan datang semoga kita tetap bisa meraih keberkahannya. AAMIIN.

2 komentar:

Menyiapkan Generasi yang Kuat

  خُطْبَةُ الْجُمُعَةِ 1447 H / 20 26 M KHUTBAH PERTAMA   الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِ...